Selasa, 26 Maret 2013

Melatih diri Agar menjadi lebih Optimis

 Optimis bisa menjadikan kita lebih bahagia, lebih sehat dan lebih sukses. Sebagai manusia kita mempunyai keadaan yang terkadang optimis dan terkadang pesimis. Malah untuk sebagian orang sikap pesimis jauh lebih dominan dibandingkan sifat optimis. Bisakah kita melatih diri untuk menjadi lebih optimis? Tentunya bisa dan pasti bisa jika kita mau berusaha. Berikut beberapa tips untuk melatih diri untuk lebih optimis:
1. Dekatkan diri ke Allah
Dengan mendekatkan diri ke Allah, hati dan pikiran kita menjadi lebih tenang. Pastinya kita semua mengetahui bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuannya. Sehingga apapun yang terjadi, kita harus selalu optimis, karena Allah sudah mengatur segala sesuatu dengan sebaik-baiknya rencana. Allah maha tahu dan kita yang tidak mengetahui yang terbaik.
2. Ubah masalah menjadi tantangan
Masalah adalah masalah jika kita menganggapnya masalah, justru akan membuat masalah tersebut menjadi lebih besar. Cobalah ubah pola pikir anda terhadap masalah tersebut, dari masalah menjadi seb
uah tantangan. Jangan sedikitpun lupa untuk melibatkan Allah dalam setiap tantangan yang kita hadapi. Seperti kata Ustad Yusuf Mansur, jika kita memiliki masalah bukan mengadu kepada manusia ataupun ke polisi, tapi adukanlah ke Allah. Jadikan tantangan ini menjadi jembatan pendekat diri ke Allah. Dan selalu katakan ke diri anda bahwa ini bukan masalah, ini adalah tantangan untuk menjadi lebih baik.
3. Motivasi diri anda
Jika anda dihadapkan pada suatu tantangan baru, maka katakanlah kepada diri anda bahwa anda bisa, anda pasti berhasil, karena anda meminta kepada sang pemilik semua urusan yaitu Allah swt. Selalu katakan bantuan Allah akan segera datang, cepat atau lambat.
4. Bayangkan manfaat yang anda dapat
Bayangkan kesuksesan yang akan anda dapat setelah anda berhasil menyelesaikan tantangan tersebut. Bayangkan tingkat kesabaran anda yang lebih meningkat setelah tantangan tersebut selesai. Bayangkan kesuksesan yang anda inginkan untuk terjadi setiap kali anda mendapatkan tantangan baru.
5. Ingat kesuksesan yang pernah anda raih
Jika anda merasa sangat jatuh karena masalah tersebut, maka ingatlah kesuksesan yang dulu pernah anda raih. Yakinkan diri anda, bahwa anda pasti berhasil lagi seperti keberhasilan yang dahulu. Janganlah lupa untuk mencatat setiap keberhasilan yang anda dapat dan masalah yang berhasil anda selesaikan. Ingatlah bahwa bantuan-bantuan Allah selalu datang disetiap anda mendapat masalah, tentunya jika anda terus meminta petunjuk dari Allah.

Read More - Melatih diri Agar menjadi lebih Optimis

Minggu, 12 Agustus 2012

Sunnah-Sunnah Puasa

Sunnah-Sunnah Puasa

1. Makan sahur
    Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw berikut ini:
“Rasulullah saw bersabda: "Sahurlah kalian, karena dalam sahur itu terdapat keberkahan" (HR. Bukhari Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda: "Yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur" (HR. Muslim).
Dalam beberapa hadits lain rasulullah menganjurkan kita untuk sahur meskipun hanya dengan seteguk air. Dan sebaik-baiknya makanan sahur bagi kaum muslimin itu adalah kurma.

2. Mengakhirkan waktu sahur
 Sahur sebaiknya dilakukan diakhirkan (menjelang waktu subuh, terbit fajar), karena mengakhirkan waktu sahur termasuk amalan sunnah sebagaimana disebutkan dalam hadits:  “ Zaid bin Tsabit berkata: "Kami melakukan sahur bersama Rasulullah saw, kemudian beliau
berdiri untuk melakukan shalat. Saya bertanya: "Berapa jarak waktu antara adzan dan sahur tersebut?" Ia menjawab: "Kira-kira sama dengan waktu membaca lima puluh ayat" (HR.Bukhari dan Muslim).

Apabila kita sedang makan sahur tiba-tiba terdengar suara adzan subuh, maka kita di perbolehkan untuk menghabiskan makanan sahur kita.
Rasulullah saw bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian mendengar adzan (maksudnya adzan Shubuh), sementara tangannya masih memegang piring (maksudnya masih makan sahur), maka janganlah meletakkan piring tersebut sehingga ia menghabiskannya" (HR. Abu Dawud dan Hakim).
Meski demikian, tentu agar lebih hati-hati (ikhtiyat), sebaiknya sahur tersebut sudah selesai sebelum adzan Shubuh tiba. 

3. Menyegerakan berbuka
Rasulullah saw bersabda: "Orang-orang akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka bersegera dalam berbuka (berbuka puasa)" (HR. Bukhari Muslim). 

4. Berbuka dengan kurma atau air
Artinya: Anas berkata: "Rasulullah saw apabila berbuka puasa beliau memakan beberapa biji ruthab  (kurma basah, masih muda, biasanya masih berwarna merah) terlebih dahulu sebelum melakukan shalat. Apabila tidak ada ruthab, beliau makan  tamar (kurma yang sudah dipendam dan dimasakkan biasanya berwarna hitam). Apabila tidak ada juga, beliau berbuka dengan satu teguk air minum" (HR. Abu Dawud dan haditsnya Hasan). 

5. Berdoa ketika berbuka puasa
Artinya: "Ibnu Umar berkata: "Rasulullah saw apabila beliau berbuka puasa, beliau membaca doa: "Dzahabad dhama'u wabtallatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah (Ya Allah, telah hilang rasa dahaga, telah basah tenggorokan, telah didapatkan pahala, insya Allah" (HR. Abu Dawud dan hadits tersebut Hasan).



Golongan Yang Harus (Dibenarkan) Berbuka Puasa: 


Orang yang di dalam (perjalanan - musafir), tetapi wajib di qada’.
Orang sakit, wajib di qada’.
Ibu yang menyusukan anak, jika takut mudharat bagi dirinya, maka wajib qada’ dan jika takut mudharat bagi anaknya maka wajib qada’ dan fidyah.

Pantang-larangan puasa: 


Yaitu perkara-perkara yang membatalkan  pahala puasa, maknanya berpuasa tidak mendapat apa-apa pahala kecuali lapar dan dahaga (puasa yang sia-sia).
1. Berdusta, berbohong.
2. Mengumpat, mengata orang.
3. Membuat sesuatu yang boleh mendatangkan permusuhan.
4. Melihat benda-benda yang mendatangkan keinginan.
5. Marah.


Read More - Sunnah-Sunnah Puasa

Cara menyambut bulan Ramadhan

Keutamaan menyambut  Ramadhan :

Dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Rasulullah saw saat Ramadhan tiba bersabda: Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, Allah telah wajibkan atas kalian puasa di siang harinya, pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu, pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang (H.R. Ahmad).

10 hal yg harus dilakukan menyambut Ramadhan :

Gembira akan kedatangan Ramadhan
Memperbanyak syukur kepada Allah SWT.
Memperbanyak doa
Tekad yang sungguh-sungguh untuk optimalisasi Ramadhan
Menyusun perencaan selama Ramadhan.
Pemahaman yang baik terhadap hukum-hukum Ramadhan.
Bertaubat
Pengkondisian jiwa dan ruhani
Persiapan dan perencaan yang baik untuk melakukan dakwah
Membuka lembaran putih bersama


Sumber :
http://sbastiancastleright.blogspot.com/2012/07/10-cara-menyambut-bulan-suci-ramadhan.html
Read More - Cara menyambut bulan Ramadhan

Sebuah Nasehat Untukmu, Kader Dakwah

“Perumpamaan kita dalam perjalanan dakwah ini ibarat berada dalam sebuah kapal kecil yang terkepung ombak dan badai dari berbagai penjuru.
 Bahtera yang menembus berbagai gelombang, seperti Dakwah yang harus melalui banyak rintangan. 
Kadang bahtera kita oleng ke kanan dan kadang oleng kekiri dengan hebatnya, sehingga kita yang berada didalamnya merasa khawatir dan gelisah. Lalu kita turunkan layar dan menggantinya dengan dayung.

Untuk itu kesulitan  dan perjuangan yang dihadapi lebih banyak, dan mungkin menyebabkan terlambat beberapa waktu untuk sampai ditujuan. Namun hal itu lebih baik daripada berhenti dan tidak pernah sampai. 

Terkadang sebuah kapal besar terpaksa berhenti total karena angin badai menghadang. Saat awak itu keluar menuju pantai, mereka mengikat tali pada tubuhnya, lalu ujung tali diikatkan pada kapal. Mereka bersama-sama menarik kapal itu sementara mereka berjalan menyusuri pantai. Cara ini tentu lebih sulit dan menguras tenaga daripada cara sebelumnya, tetapi ini cara darurat untuk mencapai tujuan, walaupun tentu menjadi terlambat beberapa waktu. 

Hanya dengan cara itu itulah yang memungkinkan mereka mencapai tujuan.
Untuk itu perlu kesabaran, kearifan, dan tidak menggunakan berbagai alat yang nyeleneh, yang terkadang justru menggagalkan perjalanan …….”


(Imam Hasan Al Banna)             

Read More - Sebuah Nasehat Untukmu, Kader Dakwah

Kisah : Bilah bin Rabah

Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda' (putra wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung SAW mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu'minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, 'Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.
Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh'afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal-semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad ... (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ....“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad....”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan 'Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah2 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad..., Ahad..., Ahad..., Ahad....” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas1.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, "Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya."
Abu Bakar membalas, "Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya..."
Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, "Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar."
Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, "Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah." Setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan 'Amir bin Fihr.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan RasulullahSholallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.


Read More - Kisah : Bilah bin Rabah

Jangan membuat Allah kecewa dan cemburu

Dalam hidup kita sering dihadapkan dengan berbagai pilihan. Diantara ya dan tidak, diantara ini dan itu, diantara surga dan neraka. Hidup haruslah seimbang antara kepentingan kita di dunia dan akhirat. Akan tetapi jika diamati dan ditelaah, sekarang ini banyak yang lebih mementingkan kepentingan di dunia,kita lebih menuruti hawa nafsu belaka. Walaupun tidak diperbolehkan dalam agama tetapi tetap saja di langgar. Seakan-akan kita hidup hanya di dunia saja. Padahal hidup kita di dunia hanya sebentar. Mengapa kita tidak sadar akan hari akhir?

Allah menciptakan semuanya kemudian memerintahkan kita untuk bersujud, Tetapi apa yang kita lakukan? Apakah kita sudah bersujud kepada-Nya? sudahkah kita bersyukur? Bayangkan saja jika perintah kita tidak di laksanakan oleh seseorang! kecewakah kita? marahkah kita? lalu apakah kita pernah berfikir kalau Allah kecewa akan tingkah laku kita? Tingkah laku kita yang tidak taat kepada-Nya. Kita telah di beri nikmat yang sungguh luar biasa karena dapat menikmati indahnya dunia ini? Mana ucapan terimakasih kita kepada-Nya?Apa balasan kita kepada-Nya? Ya Allah ampuni hambamu ini yang sering khilaf akan kehidupan dunia yang fana ini.
 

Kita sering dan bahkan termotivasi hanya karena makhluk Allah, tetapi kita jarang termotivasi karena Allah. Tujuan dan hal-hal yang kita lakukan sering kali bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena makhluk Allah. Apakah kita berfikir kalau Allah akan Cemburu? Jika kita dibuat cemburu oleh makhluk Allah yang lain, kita akan sakit hati, marah dan kecewa? Perasaan kita sudah tidak karuan. Lalu, pernahkan kita berfikir tentang-Nya?? Allah yang memberikan segalanya tetapi kita melupakannya. Berubah menjadi begini dan begitu hanya karena makhluk Allah. Kenapa tidak karena Allah???? Kita lebih memilih dia daripada Dia? Ya Allah ampuni hambamu ini. 

(Dikutip dari: http://loveallahrosul.blogspot.com)
Read More - Jangan membuat Allah kecewa dan cemburu

Rabu, 21 Maret 2012

Ketua UKMI Al-Iqtishad tahun 2012


kata sambutan
assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh
segala puji bagi Allah tuhan semesta alam yang telah melimpahkan taufik,hidyah dan nikmatnya kepada kita semua sehingga kita tetap dapat menjalankan aktivitas kita.
Sholawat serta salam marilah kita haturkan kepada penghulu para nabi dan rasul yakni nabi muhammad SAW “allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala alihi,wa ashhabihi wa sallim” yang telah merubah tatanan kehidupan ummat dari gelapnya zaman jahiliyah menuju terangnya jalan islamiyah yaitu agama islam.
Alhamdulillah setelah lama kita nantikan, akhirnya edisi pertama mading “UKMI AL-IQTISHAD” dapat kembali terbit di tengah-tengah kita,semoga semua ini dapat bermanfaat  untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan dan juga informasi bagi kita semua.
 “DAN ALLAH MENGILHAMKAN KEPADA SETIAP JIWA ITU JALAN KEFASIKAN DAN JALAN KETAQWAAN” (QS.ASY-SYAM:8)
            Hidupa adalah pilihan,apa yang kita dapatkan hri ini akibat dari pilihan kita di masa lalu, dan pilihan kita hari ini akan menentukan kehidupan kita di masa yang akan datang,maka pilihlah pilihan yang terbaik untuk kehidupan kita di dunia ini dan lebih-lebih untuk kehidupan yang kita yang kekal di akhirat.
            Dan pilihan itulah yang kini saya pilih bergabung dengan organisasi da’wah bernama “UKMI AL-IQTISHAD” pada tahun 2009, tahun pertama saya masuk sebagai seorang mahasiswa di fakultas ekonomi melalui program yang kelolanya yaitu” MENTORING AGAMA ISLAM”.
            UKMI AL-IQTISHAD organisasi yang mengikat hati para anggotanya dalam sebuah ikatan cinta yang indah bernama “UKHUWAH”,ikatan yang tidak akan pernah terputus sampai ruh  berpisah dari jasad ini, bahkan akan kekal sampai akhirat kelak “sesungguhnya pada hari kiamat kita akan di kumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai” (al-hadits)
            Dan untuk semua kader UKMI AL-IQTISHAD jangan pernah antum/na merasa rugi dengan bergabung dalam jama’ah ini,karna sesungguhnya waktu libur,waktu istirahat,waktu bersama keluarga yang antum/na korbankan, dan setiap  rupiah yang antum/na infakkan di jalan ini kelak akan di balas oleh allah dengan balasan yang lebih baik,,, amin
“TETAP ISTIQAMAH DAN SEMANGAT “

CURICULUM VITAE

NAMA                         : SUDI HARDI
TTL                              : LENDANG BAJUR, 8 MEI 1990
ALAMAT                     : LENDANG BAJUR, GUNUNGSARI,
           LOMBOK BARAT
HOBI                           :TILAWATIL QUR’AN, OLAHRAGA,
          BACA BUKU CERITA ,NONTON TV
CITA-CITA                  : JADI ANGGOTA DPR
PENDIDIKAN            :
            SD                    : SDN 1 GUNUNGSARI
            SMP/MTs        : MTS AD-DINUL QAYYIMU
            SMA/MA         : MA AD-DINUL QAYYIMU
            PTN                 : FAKULTAS EKONOMI UNRAM
                                      JURUSAN IESP
                                      Konsentarsi ekonomi islam
                                      SEMESTER VI (ENAM)
MOTTO HIDUP         : “hidup mulia dan mati dala m keadaan syahid”

Read More - Ketua UKMI Al-Iqtishad tahun 2012

Minggu, 05 Juni 2011

ISTRI YANG MENYEJUKKAN HATI

Sebaris kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi seorang istri yang ingin menjadi perhiasan terindah dunia dan bidadarinya akhirat  yaitu wanita shalihah. Semoga melalui kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi seseorang yang mendambakan keluarga sakinah mawadah wa rahmah yang diridhai oleh Allah  ‘Azza wa jalla

Ia menceritakan pengalamannya:

“Ketika aku menikahi Zainab binti Hudair aku berkata dalam hati: Aku telah menikah dengan seorang wanita Arab yang paling keras dan paling kaku tabiatnya. Aku teringat tabiat wanita-wanita bani Tamim dan kerasnya hati mereka. Aku berkeinginan untuk menceraikannya. Kemudian aku berkata (dalam hati): “Aku pergauli dulu (yaitu menikah dan berhubungan dengannya), jika aku dapati apa yang aku suka, aku tahan ia. Dan jika tidak, aku ceraikan ia.”
Kemudian datanglah wanita-wanita bani Tamim mengantarkannya. Dan setelah ditempatkan dalam rumah, aku berkata, “Wahai fulanah, sesungguhnya menurut sunnah apabila seorang wanita masuk menemui suaminya hendaklah si suami shalat dua rakaat dan si istri juga shalat dua rakaat.”
Akupun bangkit mengerjakan shalat kemudian aku menoleh ke belakang ternyata ia ikut shalat di belakangku. Seusai shalat para budak-budak wanita pengiringnya datang dan mengambil pakaianku dan memakaikan padaku pakaian tidur yang telah dicelup dengan za’faran.
Dan tatkala rumah sudah kosong, aku mendekatinya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, “Tahan dulu (sabar dulu).”
Aku berkata dalam hati, “Satu malapetaka telah menimpa diriku.” (yakni musibah telah menimpa dirinya)
Lalu ia memuji Allah kemudian memanjatkan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku adalah seorang wanita Arab. Demi Allah, aku tidak pernah melangkah kecuali kepada perkara yang diridhai Allah. Dan engkau adalah lelaki asing, aku tidak mengenali perilakumu (yakni aku belum mengenal tabiatmu).
Beritahulah kepadaku apa saja yang engkau suka hingga aku akan melakukannya dan apa saja yang engkau benci hingga aku bisa menghindarinya.”
Aku berkata kepadanya, “Aku suka begini dan begini (Syuraih menyebutkan satu persatu perkataan, perbuatan, makanan dan segala sesuatu yang disukainya) dan aku benci begini dan begini (Syuraih menyebutkan semua perkara yang ia benci).”
Ia berkata lagi, “Beritahukan kepadaku siapa saja anggota keluargaku yang engkau suka bila ia mengunjungimu?”
Aku (Syuraih) berkata, “Aku adalah seorang qadhi, aku tidak suka mereka (anggota keluargamu) membuatku bosan.”
Maka akupun melewati malam yang paling indah, dan aku tidur tiga malam bersamanya. Kemudian aku keluar menuju majelis qadha’, dan aku tidak melewati satu hari melainkan hari itu lebih baik daripada hari sebelumnya.
Tibalah waktu kunjungan mertua.
Yaitu genap satu tahun (setelah berumah tangga).
Aku masuk ke dalam rumahku. Aku dapati seorang wanita tua sedang menyuruh dan melarang.
Aku bertanya, “Hai Zainab, siapakah wanita ini?”
Istriku menjawab, “Ia adalah ibuku.”
“Marhaban”, sahutku.
Ia (ibu mertua) berkata, “Bagaimana keadaanmu hai Abu Umayyah?”
Alhamdulillah baik-baik saja”, jawabku.
“Bagaimana keadaan istrimu?” Tanyanya.
Aku menjawab, “Istri yang paling baik dan teman yang paling cocok. Ia mendidik dengan baik dan membimbing adab dengan baik pula.”
Ia berkata, “Sesungguhnya seorang wanita tidak akan terlihat dalam kondisi yang paling buruk tabiatnya kecuali pada dua keadaan: Apabila sudah punya kedudukan di sisi suaminya dan apabila telah melahirkan anak. Apabila engkau melihat sesuatu yang tak mengenakkan padanya pukul saja. Karena, tidaklah kaum lelaki memperoleh sesuatu yang lebih buruk dalam rumahnya selain wanita warhaa’ (yaitu wanita yang tidak punya kepandaian dalam melakukan tugasnya).
Syuraih berkata, “Ibu mertuaku datang setiap tahun sekali kemudian ia pergi sesudah bertanya kepadaku tentang apa yang engkau sukai dari kunjungan keluarga istrimu ke rumahmu?”
Aku menjawab pertanyaannya, “Sekehendak mereka!” Yaitu sesuka mereka saja.
Aku hidup bersamanya selama dua puluh tahun, aku tidak pernah sekalipun mencelanya dan aku tidak pernah marah terhadapnya.”
 
Dikutip dari buku Agar Suami Cemburu Padamu karya Dr. Najla’ As-Sayyid Nayil, penerbit Pustaka At-Tibyan
Read More - ISTRI YANG MENYEJUKKAN HATI

Sabtu, 21 Mei 2011

Jalan yang di Tempuh dalam Perjuangan Syariat Islam

  

Secara umum ada dua jalan yang ditempuh dalam perjuangan merubah sistem Sekular menjadi sistem Islam. Pertama, jalan parlemen. Jalan ini menggunakan logika linier, yaitu partai politik ikut dalam parlemen untuk merumuskan perundang-undangan yang sesuai dengan syariah. Dengan demikian, sistem akan berubah.
Fakta menunjukkan perubahan total tidak pernah terjadi melalui jalan parlemen. Kalaupun bisa terjadi bersifat parsial. Karenanya, perjuangan melalui parlemen bukanlah metode untuk melakukan perubahan total.
Parlemen tidak dapat dijadikan sebagai metode perubahan. Sebab, metode perubahan melalui parlemen hanya bersifat teoritis belaka bukan praktis. Selain itu, pemilu bukanlah metode perubahan yang telah ditempuh oleh Rasul saw. ketika mendirikan pemerintahan Islam.
Pada sisi lain dilihat dari faktanya, parlemen itu memiliki tiga fungsi, yaitu:

  1. Membuat undang-undang dasar dan undang-undang serta mengesahkan berbagai kesepakatan, rancangan undang-undang, dan berbagai perjanjian yang lain.
  2. Mengangkat kepala negara –di beberapa negara, dia dipilih secara langsung oleh rakyat– dan memberikan mandat kepadanya untuk menjalankan pemerintahan.
  3. Melakukan pengawasan, koreksi, dan kontrol kepada pemerintah dan lembaga-lembaga pemerintahan.
Partai Islam ditujukan untuk menerapkan Islam secara kaffah, karenanya partai yang membuat undang-undang sekular, melalui wakilnya yang duduk di parlemen, bertentangan dengan fakta partai Islam itu sendiri. Lebih dari itu, dalam pandangan Islam, manusia tidak berhak membuat hukum dan undang-undang. Yang berhak membuat hukum perundang-undangan itu hanyalah Allah SWT. Allah berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ
Kuputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. (TQS. Yûsuf [12]: 40)
Begitu juga pemberian mandat kepada pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Allah, jelas hukumnya haram, tidak boleh dilakukan oleh partai Islam. Allah SWT menegaskan hal ini dalam firmanNya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barang siapa tidak berhukum kepada apa yang diturunkan Allah (syariah Islam), maka mereka termasuk orang-orang kafir. (TQS. al-Mâidah [5]: 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang zalim. (TQS. al-Mâ’idah [5]: 45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barang siapa tidak berhukum kepada apa yang diturunkan Allah (syariah Islam), maka mereka termasuk orang-orang fasiq” (TQS. al-Mâidah [5]: 47)
Jalan kedua adalah jalan yang merupakan metode perubahan. Metode ini adalah metode yang ditempuh oleh Rasulullah SAW. Metode tersebut berupa pembinaan umat Islam dan berinteraksi dengan mereka hingga terbentuk kesadaran umum pada diri mereka. Bukan sembarang kesadaran melainkan kesadaran bahwa mereka adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia, dan kesadaran bahwa agama Islam yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad adalah risalah paripurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Umat pun menjadi sadar bahwa Allah akan memenangkannya atas semua agama dan ideologi, termasuk atas demokrasi Barat.
Agama inilah satu-satunya yang akan membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam.
Dalam prakteknya, partai Islam tidak lepas dari langkah-langkah berikut:
  1. Dimulai dengan pembentukan kader yang berkepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah), melalui pembinaan intensif (halqah murakkazah) dengan materi dan metode tertentu. Proses ini akan menjadikan rekrutmen kader politik tidak pernah surut. Bukan kader yang berambisi untuk mendapatkan kursi melainkan kader perjuangan dalam menegakkan Islam demi kemaslahatan manusia.
  2. Pembinaan umat (tatsqif jamaiy) untuk terbentuknya kesadaran masyarakat (al-wa’yu al-am) tentang Islam.
  3. Pembentukan kekuatan politik melalui pembesaran tubuh partai (tanmiyatu jismi al-hizb) agar kegiatan pengkaderan dan pembinaan umum dapat dilakukan dengan lebih intensif, hingga terbentuk kekuatan politik (al-quwwatu al-siyasiya). Kekuatan politik adalah kekuatan umat yang memilliki kesadaran politik Islam (al-wa’yu al-siyasiy al-islamy), yakni kesadaran bahwa kehidupan bermasyarakat dan bernegara harus diatur dengan syariah Islam.
  4. Pemikiran partai Islam tentu berbeda dengan partai Sekular-Kapitalis-Liberal maupun Sosialis-Komunis. Sebagai contoh, dalam masalah ekonomi, partai sekular menjadikan seluruh aset produksi, termasuk sumber daya alam (SDA) dibiarkan dikuasai oleh individu atau swasta berdasarkan mekanisme pasar.
  5. Massa umat yang memiliki kesadaran politik menuntut perubahan ke arah Islam. Di sinilah penggabungan kepentingan (interest aggregation) dan perumusan kepentingan (interest articulation) dilandaskan pada Islam dan diperjuangkan bersama antara partai dengan rakyat.
  6. Penyampaian Islam pun ditujukan kepada ahl-quwwah dan pihak-pihak yang berpengaruh seperti politisi, orang kaya, tokoh masyarakat, media massa dan sebagainya.
  7. Sistem (syariah) dan kekuasaan (khilafah atau penyatuan ke dalam khilafah) Islam tegak melalui jalan umat.
Jalan tersebut merupakan jalan yang didasarkan pada kesadaran masyarakat dan perjuangan bersama antara partai dengan umat sehingga dikenal dengan jalan ‘an thariq al-ummah (melalui jalan umat). Tampak, jalan tersebut merupakan jalan damai dan alami. Tidak ada sesuatu yang perlu ditakutkan atau dikhawatirkan. Sebab, inti dari metode itu adalah kesadaran umat dan tuntutan umat demi kemaslahatan umat.
Kemasalahatan umat itu bukanlah sekadar persoalan moralitas dan sentimen keagamaan. Namun, Partai politik Islam juga memiliki solusi syariah yang cerdas, dan bisa diterapkan oleh negara, seperti menjamin kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan) tiap individu masyarakat. Mekanisme ini dilakukan setelah secara individu, seseorang tidak mampu memenuhinya, dan keluarga dekatnya tidak mampu memenuhinya. Selain itu, Islam juga menjamin kebutuhan kolektif, seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan gratis sebagaimana yang banyak dinyatakan dalam al-Quran dan hadits Nabi.
Demikianlah seharusnya partai politik Islam. Kehadirannya didambakan oleh rakyat yang menginginkan hidup sejahtera di dunia dan akhirat.

Read More - Jalan yang di Tempuh dalam Perjuangan Syariat Islam

LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN

Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini ?"
Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"

Tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?"
Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik mahupun yang buruk."
Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?"
Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."

Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."

Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."

Read More - LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN